Tuesday, November 15, 2011

Targetkan Kenaikan Penjualan, Ramayana Bisa Menjadi Pilihan

Rabu, 16 November 2011 10:15 WIB


(Vibiznews-Stocks) -PT Ramayana Lestari Sentosa  Tbk (RALS) memproyeksikan penjualan hingga akhir tahun sekitar Rp 6,856 triliun, meningkat 13,13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,06 triliun bersamaan dengan ditingkatkannya kontribusi di Jawa, Bali, dan Lampung.

Dengan target market konsumen menengah ke bawah, perseroan akan  mencari alternatif barang-barang lower price supaya sesuai dengan daya beli konsumen, kontrol yang lebih ketat atas pengendalian biaya, dan mengadakan program promosi yang tepat. Sementara itu, perseroan juga terus bekerja sama yang baik dengan pemasok.
Dengan usaha ini, diharapkan laba bersih perseroan terdongkrak dari Rp 354,752 miliar menjadi Rp 428,849 miliar.Perkiraan laba bersih juga akan naik 6,3% dari sebelumnya 5,9%. Sama halnya dengan marjin laba operasional yang naik menjadi 6,9% dari sebelumnya 6,1%.

Kenaikan pendapatan perusahaan ritel ini dibukukan sebesar  19,52% menjadi Rp 4,04 triliun dibanding periode sebelumnya yang hanya senilai Rp 3,38 triliun. Kenaikan ini disebabkan adanya peningkatan penjualan barang beli putus perseroan yang tercatat senilai Rp 3,55 triliun.

Perseroan pun meraih laba bersih sebesar Rp 343,25 miliar atau meningkat 7,98% dibanding periode sebelumnya sebesar Rp 317,88 miliar. Dan laba bersih persaham tercatat Rp 48,47 per saham naik dibanding periode sebelumnya senilai Rp 44,80 per saham.

Kinerja dari RALS sendiri baik,dibanding emiten lain dalam bidang ritel.  Hal ini dapat terlihat dari ROE dan ROA (15,86% dan 12,61%) yang lebih tinggi dari kompetitornya MPPA yang memiliki  ROE 1,76% dan ROA 1,03%. Tidak lupa nilai PER,  RALS jauh lebih baik dibandingkan dengan MPPA yaitu 9,61x dibanding dengan 50,89x. RALS ditutup pada harga Rp 620,00 kemarin (15/11).

Di sisi teknikal, sejak dua bulan terakhir, saham ini berada dalam tren bearish dengan support dan resistance pada level Rp 600,00-Rp 705,00.

Lihat Analisis Vibiz Research

No comments: