“Untuk mekanisme penyaluran sendiri, yang dulunya refinancing, sekarang project financing. tentunya harus pilih-pilih juga. Ini bukti bahwa kita meiliki komitmen dengan program ini. Akan tetapi tidak bisa berhasil seperti yang kita harapkan sepanjang masalah di lahan tidak ada terobosan," paparnya lebih lanjut. BBRI sndiri tenyata mencadangkan plafon sebesar Rp 12 triliun yang merupakan carry over target hingga 2010 untuk tiga komoditas yaitu kakao, karet, dan kelapa sawit. Penyaluran kredit revitalisasi perkebunan ini telah disepakati oleh 15 bank lain pula sampai 2014 nanti.
Secara fundamental, saham ini memiliki ROA dan ROE yang lebih baik dari pesaingnya, BBCA dan BMRI. Dapat dilihat dari tingkat pengembalian terhadap aset maupun investor, nilai ROA dan ROE BBRI secara berturut-turut adalah sebesar 3,46% dan 29,25% berbanding BBCA ( 2,82% dan 2,44%), dan BMRI (2,44% dan 17,89%). Selain itu, dari nilai PER, PER BBRI lebih kecil dari kedua pesaing lainnya yakni hanya sebesar 11,9x berbanding BBCA 19,47x dan BMRI 13,64x.
Dari analisa teknikal, BBRI berada pada trend bullishnya, namun dengan histogram positif yang memendek. Saham ini berada pada tingkat support dan resistance di level Rp. 6670,00 – Rp. 7250,00.
Lihat Analisis Vibiz Research
No comments:
Post a Comment