Ia menambahkan, untuk target penjualan sendiri, 90% masih berasal dari pasar domestik, dan 10% lainnya dari pasar ekspor. BRNA tidak memfokuskan pengembangan penjualan ekspor dengan mempertimbangkan efisiensi biaya produksi dan distribusi.
Hingga saat ini, 3 pabrik perseroan memiliki kapasitas produksi sebesar 13 ribu ton per tahun. Untuk kedepannya, perseroan berencana menaikkan kapasitas produksi sebesar 10-20%. Oleh karena itu, BRNA juga menganggarkan belnja modal (capex) senilai
100 miliar- Rp 150 miliar dengan sumber pendanaan sebesar 30% dari kas internal dan 70% lainnya dari pinjaman perbankan. Saat ini perseroan sedang menjajaki fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk, The Hong Kong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC)Indonesia, serta PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP)
Secara teknikal, dalam jangka panjang BRNA masih berada pada trend bullishnya. Namun tidak dalam jangka pendek. Support dan resistancenya sendiri berada di level Rp. 1750,00 dan Rp. 1910,00. Hingga penutupan sesi 1 saham ini masih stagnan di Rp. 1800,00 dan belum ada transaksi satupun.
No comments:
Post a Comment